Senin, 20 April 2009

NIKMAT TAUBAT


NIKMAT TAUBAT

Saudaraku yang tercinta,
Sejak diciptakan oleh Allah, manusia selalu berada di atas sebuah titian perjalanan.
Dunia bukanlah negeri untuk ditinggali selamanya. Akan tetapi ia adalah tempat persinggahan dan sekedar untuk lewat saja …

Perjalanan ini tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kita menghadap Allah. Barangsiapa yang berlaku baik di dalam perjalanannya niscaya akan diberi balasan dengan kenikmatan abadi di surga… Dan barangsiapa yang berlaku jelek di dalam perjalanannya niscaya akan dibalas dengan siksa yang pedih di dalam Jahannam.

Oleh sebab itu, orang yang berbahagia adalah yang selalu bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini dan membekali dirinya untuk itu. Dia pun mempersiapkan bekal ketakwaan dan amal shalihnya. Sedangkan orang yang celaka ialah orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya di dalam kelalaian dan kemaksiatan. Sehingga kedatangannya tatkala menghadap Tuhannya ia divonis sebagaimana para pendurhaka, pelaku dosa dan kesalahan.

Sementara itu, di dalam perjalanannya menuju Allah seorang hamba pastilah akan mengalami sesuatu yang tidak terpuji, baik berupa ucapan maupun perbuatan; sebab manusia bukanlah makhluk yang ma’shum (terjaga dari salah dan dosa). Dia tidak pernah lepas dari sifat lupa dan lalai. Dan karena kemaksiatan-kemaksiatan merupakan sebab timbulnya murka Allah terhadap hamba dan pemicu ditimpakannya hukuman atasnya maka Allah ‘azza wa jalla tidaklah menelantarkan hamba-hamba-Nya menjadi tawanan maksiat. Allah tidak membiarkan mereka terjebak dalam kebingungan dan kekalutan. Akan tetapi Allah melimpahkan nikmat yang sangat agung kepada mereka. Allah karuniakan kepada mereka sebuah anugerah yang sangat besar. Yaitu dengan dibukakan-Nya pintu taubat dan inabah bagi mereka. Kalau seandainya Allah tidak memberikan taufik kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dan tidak memberikan nikmat diterimanya taubat itu pastilah hamba akan terjebak dalam sebuah kondisi sempit yang amat menyusahkan. Sehingga merekapun diliputi rasa putus asa dari mendapatkan ampunan. Dan harapan mereka untuk bisa mencari kedekatan dengan Tuhannya pun menipis dan terputuslah keinginan mereka untuk bisa meraih ampunan, kelapangan dan kelonggaran.

Allah Maha pengampun, Maha penerima taubat dan Maha penyayang
Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Qur’an bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hamba-Nya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya” (QS. An Nisaa’ [4] : 27)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur [24] : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm [53] : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf [7] : 156)

Oleh karenanya, saudaraku yang tercinta
Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu…
Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …
Ia merindukan pijakan kakimu…
Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu…

Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan hawa nafsumu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam maksiat -sehingga memupus taubatmu yang terdahulu- janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ [17] : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar [39] : 53-54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian” (Shahih Ibnu Majah)

Maka dimanakah orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya?
Dimanakah orang-orang yang kembali taat dan merasa takut siksa?
Dimanakah orang-orang yang ruku’ dan sujud?

Kewajiban bertaubat
Hakikat taubat adalah meninggalkan segala yang dibenci Allah lahir maupun batin menuju segala hal yang dicintai-Nya lahir maupun batin. Asal makna taubat adalah kembali. Barangsiapa yang kembali insaf setelah terjerumus dalam berbagai penyimpangan karena merasa malu kepada Allah dan takut terhadap azab-Nya maka dialah orang yang disebut sebagai taa’ib (pelaku taubat)

Hukum taubat fardhu ‘ain atas setiap muslim berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’.

Adapun dalil dari Al Kitab, ini didasarkan oleh firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang beriman, supaya kalian mendapatkan keberuntungan” (QS. An Nuur [24] : 31) Begitu pula firman Allah ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. At Tahriim [66] : 8)

Di dalam kedua ayat ini terdapat perintah yang sangat tegas untuk bertaubat kepada semua kaum beriman. Hal ini menunjukkan wajibnya melakukan taubat. Dan ia juga sekaligus menunjukkan bahwa taubat itu tidak khusus berlaku bagi para pelaku maksiat dan kesalahan saja; karena Allah ta’ala memerintahkannya kepada seluruh kaum beriman.

Dalil lain yang juga menunjukkan atas kewajiban bertaubat ialah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al Hujuraat [49] : 11). Di dalam ayat ini Allah membagi hamba-hamba-Nya ke dalam dua kelompok : yang bertaubat dan yang zalim. Dan karena kezaliman itu diharamkan maka sebaliknya bartaubatpun menjadi sebuah kewajiban.

Adapun dalil dari As Sunnah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk bertaubat. Beliau bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku sendiri bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim)

Sedangkan dalil ijma’ ialah sebagaimana telah diutarakan oleh Ibnu Qudamah, “Telah terjadi ijma’ atas wajibnya bertaubat” (Mukhtashar Minhaajul Qaashidiin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap hamba harus bertaubat, Taubat itu merupakan kewajiban orang yang hidup terdahulu maupun belakangan” (Majmuu’ul Fataawa). Al Qurthubi mengatakan, “Dan tidak ada perselisihan diantara umat ini tentang wajibnya bertaubat, dan bahwasanya ia termasuk kewajiban setiap individu” (Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an)

Saudaraku yang tercinta,
Salah satu bukti kasih sayang Allah ta’ala kepadamu yaitu Dia menjadikan taubat itu sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, … agar Dia memaafkan kamu dan supaya dosa-dosamu diampuni-Nya, dan Allah pun akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu. Allah ‘azza wa jalla tidak sedikitpun membutuhkan apa-apa dari kita, baik yang berupa ketaatan maupun amal-amal kita. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Tidaklah akan sampai kepada Allah daging-daging sembelihan itu, tidak juga darah-darahnya akan tetapi yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan kalian” (QS. Al Hajj [22] : 37)

Maka bersegeralah wahai saudaraku, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh. Perbaharuilah taubat setiap hari dan setiap waktu. Karena sesungguhnya seseorang yang bertaubat dari dosa-dosanya dan benar-benar menyesalinya tidaklah terhitung sebagai orang yang terus menerus berkubang dalam dosa, meskipun dalam sehari dia telah melakukannya lebih dari 70 kali!!

Bertaubatlah sekarang juga
Saudaraku yang tercinta, taubat itu wajib dilakukan dengan segera. Artinya tidak boleh mengakhirkan dan menunda-nundanya. Karena hal itu tergolong dosa baru yang membutuhkan taubat lagi. Tidakkah orang yang menunda-nunda taubat ini menyadari ketika dia berkata, “Besok saya akan bertaubat” bahwa besok belum tentu dia masih hidup.

Bahkan lebih dari itu, dia pun tidak tahu apakah saat itu dia masih sanggup bisa berdiri dari tempatnya. Karena kematian terkadang datang secara tiba-tiba, tanpa ada sebab-sebab maupun tanda-tanda yang tampak. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang mengalami kematian secara tiba-tiba akibat terkena serangan jantung secara mendadak, kecelakaan yang tiba-tiba atau karena sebab-sebab lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui secara pasti apa yang akan dilakukannya besok hari, dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati” (QS. Luqman [31] : 34)

Allah memerintahkan agar kita bersegera dalam meraih sebab-sebab yang bisa mendatangkan ampunan, sedangkan taubat termasuk diantaranya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersegeralah kalian untuk menggapai ampunan dari Tuhan kalian serta surga yang lebarnya selebar langit dan bumi” (QS. Ali ‘Imran [3] : 133). Allah berfirman (yang artinya), “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah [2] : 148). Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan orang-orang yang apabila melakukan kekejian atau kezaliman terhadap diri sendiri mereka lantas mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang bisa memberikan ampunan terhadap dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus berkubang dalam kesalahan sedang mereka mengetahuinya” (QS. Ali Imran [3] : 135).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang terus menerus dalam dosa yang dilakukannya sementara dia menyadarinya” (HR. Ahmad dan dinilai shahih Al Albani)

Oleh karenanya, wahai saudaraku yang tercinta!
Bertaubatlah sekarang juga, sebelum kezaliman itu semakin bertumpuk-tumpuk menjejali hatimu sehingga engkaupun menjadi tidak sanggup lagi membendung derasnya perbuatan maksiat.
Bertaubatlah sekarang, sebelum sakit atau kematian menimpamu sehingga tidak bisa lagi kau dapatkan kesempatan emas untuk bertaubat.
Bertaubatlah sekarang, sebelum malaikat maut datang kepadamu lantas kaupun menyesalinya, “Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia” maka Allah pun menjawab, “Sekali-kali tidak”.

TAUBAT

Rabu, 15 April 2009

Nafsu


Memahami Nafsu Manusia

Nafsu kalau tidak dididik ke arah kejahatan pun, dia tetap akan buat kejahatan. Allah telah nyatakan di dalam Al Quran:
Maksudnya: "Sesungguhnya nafsu itu sangat menyuruh kepada kejahatan." (Yusuf: 53)

Betapalah kalau dididik ke arah kejahatan dan melalui sistem yang jahat. Malang bagi suatu bangsa yang nafsunya memang jahat, dididik, diasuh dan dibaja pula ke arah kejahatan. Akan lahirlah orang pandai yang jahat, orang bodoh yang jahat, pemimpin yang jahat dan pendidik yang jahat. Ini lebih bahaya dan persoalan tidak kenal IQ tadi. Sebab itu nafsu perlu dikenali tahap-tahapnya dan tingkatannya. Nafsu wataknya memang jahat, kalau dibiarkan is tetap jahat, betapalah kalau dididik ke arah kejahatan oleh sistem pendidikan yang jahat dan yang mengajar pun adalah orang jahat. Betapa jahatnya kejahatan yang akan berlaku. Jadi nafsu ini perlu dididik.

Sebab itu Tuhan ingatkan kita tentang ini di dalam firman-Nya: Maksudnya: "Mereka yang berjuang ke jalan Kami, nescaya Kami akan tunjukkan jalan jalanKami. Sesungguhnya Tuhan berserta dengan orang-orang yang berbuat baik." (Al Ankabut: 69)

Sesiapa yang bermujahadah terhadap nafsu, ditingkatkannya daripada jahat kepada baik, maka Tuhan akan memberi petunjuk kepada jalan yang baik. Itu janji Tuhan. Sebab itu nafsu kena dididik. Nafsu adalah musuh utama manusia. Kedua baru syaitan. Nafsu musuh dalaman. Syaitan hanya musuh luaran. Tetapi pelik, manusia tidak pandang seperti itu.

Berbeza pandangan manusia dengan pandangan Tuhan. Lihat sejarah ketika Rasulullah SAW balik dan peperangan Badar, Rasulullah bersabda:
Maksudnya: "Kita baru balik dari peperangan yang kecil kepada peperangan yang maha besar."

Para Sahabat bertanya: ` Apakah peperangan yang maha besar itu ya Rasulullah?"
Jawab baginda: "Perang melawan nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Sebab itu orang yang besarkan Tuhan akan memandang nafsu itu besar dan wajib diperangi. Nafsu itulah yang sangat menyusahkan. Sebab itu dalam ajaran Islam kita mesti bermujahadah dalam melawan nafsu. Di dalam ajaran Islam, nafsu ada tujuh peringkat:

1. Nafsu Ammarah
Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Jika berbuat kejahatan, dia berbangga dengan kejahatannya. Kalau terpaksa susah kerana kejahatannya, dia sanggup. Jika ada orang mengingatkannya tentang kejahatannya, dia akan menjawab, "Saya anak jantan." Bayangkanlah, kalau orang macam ini jadi pemimpin dan berkuasa.

2. Nafsu Lawwamah
Nafsu yang mencerca dirinya sendiri. Sentiasa kesal dengan din sendiri. Tidak hendak berbuat jahat tetapi tidak mampu melawan nafsu. Bila melakukan kejahatan, sedih tapi buat lagi. Ada kalanya buat jahat sehingga dikenakan hukuman dalam penjara. Janji tidak buat lagi tapi buat juga. Rasa sedih lagi dan buat jahat bukan kerana seronok tapi lemah melawan nafsu. Walaupun sudah niat tidak mahu buat lagi dan sudah serik, namun terbuat juga lagi. Contohnya, ketika lalu di kebun orang, ternampak limau, rambutan dan sebagainya, walaupun sudah berazam tidak akan mencuri, tetapi ambil dan mencuri lagi. Orang nafsu di peringkat ini sudah mula sedar tetapi tidak larat hendak melawan hawa nafsunya.

3. Nafsu Mulhamah
Erti pada lafaz ialah nafsu yang telah diberi ilham, sudah mula dipimpin, diberi hidayah. Tuhan ambil perhatian sebab dia sudah mula mendidik nafsunya. Apabila seseorang itu bersungguh-sungguh melawan nafsunya, atas belas kasihan Allah maka Tuhan akan pimpin. Oleh kerana barn dididik, ibarat orang berjalan hendak menyeberang dan melintas jalan yang di tengah-tengah ada benteng, dia sudah berada di atas benteng. Ertinya dia sudah di atas sempadan (border).

Kalau tidak ada ribut atau ujian, jika mati insyaAllah selamat. Sebab sudah di atas border tapi belum sampai ke seberang. Namun masih dalam bahaya kerana apabila datang ribut, dia mungkin berbalik semula. Atau bila ujian datang, walaupun tidak jatuh tetapi sudah mula goyang. Orang di atas border ini tidak dikatakan tenang, masih dalam keadaan bahaya. Baru diberi ilham. Bila sudah sampai ke seberang barulah, masuk kawasan selamat dan barulah dikatakan tenang.

4. Nafsu Mutmainnah
Istilah mutmainnah bermaksud tenang, tidak digugat oleh kesenangan dan kesusahan, tidak digugat oleh sihat atau sakit, orang hina atau orang puji. Semuanya sama sahaja. Pujian orang tidak menyebabkan hati terasa sedap dan tidak berbunga. Orang keji, tidak terasa sakit. Tidak ada perasaan hendak marah atau berdendam. Sebab hatinya sudah tenang, perkara positif atau negatif tidak menggugatnya. Orang ini sudah menjadi wali kecil, sudah naik di atas border orang soleh. Nafsu peringkat ini sudah sampai ke kawasan selamat, tidak tergugat lagi.

Maka Tuhan mengalu-alukan ketibaannya, dengan ayat:
Maksudnya: "Wahai nafsu (jiwa) yang tenang (suci). Kernbalilah kamu kepada Tuhanmu, dengan (hati) redha dan diredhai (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam Syurga-Ku." (Al Fajr: 27-30)

Dari ayat ini, seolah-olah Tuhan tidak sabar hendak menyambut tetamu-Nya: "Mari-mari, cepat-cepat Aku tidak sabar, Aku hendak jumpa engkau ini."

Kemudian, dalam ayat tadi, Tuhan berfirman:
Maksudnya: "Kembalilah dalam keadaan redha kepada Aku, dan Aku redha dengan engkau." (Al Fajr: 28)

Tuhan mengalu-alukan dan kalau mati pada waktu itu, dia selamat. Oleh kerana dia sudah selamat, sebab itulah Tuhan menyeru. Manakala bagi orang yang nafsunya belum selamat, dia akan mati dalam keadaan jikalau Tuhan hendak azab pun boleh, hendak diampunkan pun boleh.

Semuanya atas sebab keadilan Tuhan. Kalau kita hendak mengharapkan kekuatan diri sendiri, bimbang tidak selamat. Sebab itu kita mesti mencari kekuatan lain. Di antaranya perbanyakkan selawat, berbuat baik, bertawasul dengan guru-guru dan lain-lain, mudah-mudahan itu menyelamatkan. Allah berfirman:
Maksudnya: "Bergaullah dengan hamba-hamba-Ku (iaitu para rasul, para nabi dan wali-wali), dan masuklah ke Syurga.Ku." (Al Fajr: 29-30)
Ertinya, cari-carilah sebab untuk mendapatkan rahmat dan Allah SWT. Bila mencapai peringkat nafsu mutmainnah, barulah selamat. Nafsu-nafsu di bawah daripada peringkat itu tidak selamat.

5. Nafsu Radhiah
Orang yang berada di peringkat nafsu radhiah ini, dia me redhai apa sahaja yang Allah takdirkan kepadanya. Ia terhibur dengan ujian. Ia merasakan ujian adalah hadiah dari Tuhan. Bila orang menghinanya, dia berterima kasih kepada Tuhan dan dia rasa bahagia. Sebab itu mereka yang berada di maqam ini, bila kena pukul, mereka rasa puas. Bila ditampar, seolah-olah minta ditampar lagi. Nafsunya sudah jadi malaikat.

6. Nafsu Mardhiah
Orang yang berada di peringkat nafsu ini ialah apa saja yang mereka lakukan mendapat keredhaan Tuhan. Mereka inilah yang disebut dalam Hadis Qudsi: "Mereka melihat dengan pandangan Tuhan, mendengar dengan pendengaran Tuhan, berkata-kata dengan kata-kata Tuhan."
Kata-kata mereka masin, sebab itu mereka cukup menjaga tutur kata. Kalaulah mereka mengatakan celaka, maka celakalah. Kerana kata-kata mereka, kata-kata yang diredhai Tuhan. Mereka memandang besar apa saja yang Tuhan lakukan.

7. Nafsu Kamilah
Nafsu peringkat ke-5, ke-6 dan ke-7 adalah darjat atau peningkatan kepada nafsu mutmainnah tadi. Bagi nafsu kamilah, manusia biasa tidak boleh sampai ke macam ini. Kamilah hanya darjat untuk para rasul dan para nabi. Manusia biasa hanya setakat peringkat keenam sahaja iaitu mardhiah. Ini sudah taraf wali besar.

Itulah 7 peringkat nafsu manusia. Jadi orang yang hendak mendidik manusia mesti faham peringkat-peringkat nafsu ini. Kemudian perlu faham macam mana pula hendak mendidik setiap peringkat-peringkat nafsu tersebut supaya manusia menjadi manusia.

Hari ini nafsu sudah tidak diperangi dan tidak dianggap musuh yang wajib diperangi. Sebab itu, tanyalah ulama mana sekalipun, tidak ada seorang pun yang memasukkan pendidikan nafsu dalam sukatan pelajaran. Ayat Al Quran dan Hadis yang dibaca dan dipelajari di sekolah pun tidak ada ayat-ayat yang berkaitan dengan nafsu dan kejahatannya.

Usaha memerangi nafsu tidak diaplikasikan dalam tindakan. Bila sebut musuh, yang mula-mula nampak ialah Yahudi dan Amerika sahaja. Sedangkan Yahudi dan Amerika itu budak mainan nafsu. Orang jahat itu hanyalah budak mainan nafsu.

Bertambah pelik lagi, manusia hendak membaiki buah yang pahit, dia potong buahnya. Sedangkan buah datang dari pokok.

Buah pahit itu ibarat perangai jahat. Pokok itu nafsu. Jalan paling mujarab hendak menyelesaikan buah yang pahit ialah dengan memotong atau menebang pokoknya.

Ulama pun sudah tidak faham bagaimana hendak menebang pokok nafsu. Ulama yang hafaz Al Quran dan Hadis pun tidak mampu memahaminya. Contoh lain, polis yang menjaga keamanan apabila hendak menyelesaikan masalah perompak dan pencuri, cara yang lazim dilakukan ialah menangkap dan mengurungkan mereka dalam penjara. Tetapi sebenarnya, yang paling berkesan untuk jangkamasa panjang ialah dengan menukar sistem pendidikan.

Itulah cara terbaik memerangi dan membendung kejahatan merompak dan mencuri.

Nafsu itu dididik. Bila ini berlaku, nafsu menjadi jinak. Nafsu yang jahat menjadi baik. Nafsu kalau dididik akan jadi pemurah, akan membesarkan Tuhan, tawaduk, tawakal, redha, berkasih sayang dan boleh berlapang dada. Maka lahirlah buah-buah yang manis walaupun di atas pokok yang pahit.

Allah berfirman:
Maksudnya: "Adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dan keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Syurgalah tempat tinggalnya." (An Naziat: 40-41)

Sabtu, 28 Maret 2009

DeMi MaSa


Demi masa
yang tak herhitung jumlah dan kenikmatannya
KAU yang bangun kan sesuatu dengan penuh kasih MU
indahnya semua yang aku lihat karena sungguh-sungguh nikmatMU yang besar.
tapi terkadang kita lupa yang kita jalani melebihi kesombongan ku sebagai hambaMU.

Demi Masa
KAU yang penuh kasih sayang
melebihi kasihku sebagai seorang hamba yang kecil dihadapan MU
siang malam taburi wangi surga jika hamba tahu apa yang kita jalani penuh dengan rasa syukur
namun kita lupa akan semua yang ada hingga kita tak sadar apa kita lakukan.

demi Masa
aku sebagai hamba yang penuh luka dan dosa
tetap akan kembali padamu walau tak cukup sangu
namun hamba tetap berharap akan karunia MU untuk menjadi kekuatan batin dalam hamba mengarungi hidup yang fana dalam dunia.

Maulidan


setelah berbulan-bulan berjalan kita masuki dan akan keluar lagi dari bulan yang akan kita lalui.
sekarang kita sudah melawati bulan maulid. apakah kita sudah menjalankan bulan maulid ini dengan membaca sholawat keatas nabi apakah kita sudah berjalan seperti apa yang di perintahkan oleh ulama-ulama terdahulu atau pun sekarang. mari kita manfaatkan bulan yang akan datang untuk lebih memanfaatkan waktu untuk kita berbuat baik dalam bulan yang kit hadapi.

Maulidan


Hati merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan anomia, urea, dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.

Sebagai kelenjar, hati menghasilkan empedu yang mencapai ½ liter setiap hari. Empedu berasal dari hemoglobin sel darah merah yang telah tua. Empedu merupakan cairan kehijauan dan terasa pahit. Zat ini disimpan di dalam kantong empedut . Empedu mengandung kolestrol, garam mineral, garam empedu, pigmen bilirubin, dan biliverdin. Empedu yang disekresikan berfungsi untuk mencerna lemak, mengaktifkan lipase, membantu daya absorpsi lemak di usus, dan mengubah zat yang tidak larut dalam air menjadi zat yang larut dalam air.

Sel-sel darah merah dirombak di dalam hati. Hemglobin yang terkandung di dalamnya dipecah menjadi zat besi, globin, dan heme. Zat besi dan globin didaur ulang, sedangkan heme dirombak menjadi bilirubin dan biliverdin yang bewarna hijau kebiruan. Di dalam usus, zat empedu ini mengalami oksidasi menjadi urobilin sehingga warna feses dan urin kekuningan.

Apabila saluran empedu di hati tersumbat, empedu masuk ke peredaran darah sehingga kulit penderita menjadi kekuningan. Orang yang demikian dikatakan menderita penyakit kuning.

Hati juga menghasilkan enzim arginase yang dapat mengubah arginin menjadi ornintin dan urea. Ornintin yang terbentuk dapat mengikat NH³ dan CO² yang bersifat racun.

Fungsi lain dari hati adalah mengubah zat buangan dan bahan racun untuk dikeluarkan dalam empedu dan urin, serta mengubah glukosa yang diambil dari darah menjadi glikogen yang disimpan di sel-sel hati. Glikogen akan dirombak kembali menjadi glukosa oleh enzim amilase dan dilepaskan ke darah sebagai respons meningkatnya kebutuhan energi oleh tubuh.

Itu adalah info hati manusia secara fisik namun yang perlu di perhatikan adalah ketika hati kering tanpa iman maka kita harus bisa merawat hati ini bukan karena sadar akan hal yang sudah terjadi. oleh karena itu rawat hati secara fisik tapi tidak lupa pula secara rohani.

Peranan hati sangatlah penting dan itu tanpa kita sadari.
oleh karena itu kita harus bisa menjaga hati dan yang lebih utama adalah menjaga atmosfir dalam hati, yang kadang membuat kita lupa akan segala-segalanya bukanlah dari hati langsung itu sendiri tapi dari atmosfir yang mengeliliing hati itu. maka kita sebagai seorang muslim hati harus bisa selalu berdzikir kepada Allah agar atmosfir yang ada di keliling hati ini bisa melindungi kita dari hal-hal yang akan merusak hati dan akan mempengaruhi organ yagn secara rohani atau secara fisik.